Siapa yang tidak kenal Uber? Pionir jasa transportasi online di dunia ini sudah tidak eksis di Indonesia dan Asia Tenggara sejak tahun lalu. Saat ini dikabarkan Uber mengalami kerugian besar di kwartal ke III tahun 2019 ini, dan tengah berupaya merubah kinerja perusahaan. Tapi ceruk pasar ride hailing ini tetap dipandang menjanjikan. Ini terlihat dari masuknya In Driver di Indonesia. Medan dipilih sebagai kota ekspansi pertama mereka di negeri ini. In Driver menyebut bisnisnya bukan sebagai perusahaan transportasi online, melainkan agregator internet layanan penumpang (transport). Mereka menyatakan diri sebagai aplikasi untuk mempertemukan pengemudi dengan penumpang. Karena itu pengemudi manapun dapat menggunakannya, meski sudah terdaftar menjadi anggota salah satu penyedia taxi online. Saat ini aplikasi yang bertujuan memudahkan pengemudi taxi ( baik online atau konvensional ) ini tidak menarik potongan dari uang yang dihasilkan pengemudi. Dan yang unik pada aplikasi ini penumpang dan pengemudi bisa saling menawar akan harga layanan, tapi tetap dalam standar perkilo meter yang sudah ditentukan. Penumpang pun dapat memilih taxi mana yang menjemputnya sesuai beberapa faktor yang dia inginkan, seperti jenis mobil, biaya yang paling cocok hingga foto pengemudi.

In Driver yang mengklaim memiliki 26 juta pengguna di 300 lebih kota pada 26 negara ini berkantor pusat di New York dan telah beroperasi sejak 2013. Ini tampaknya menarik, karena model bisnisnya berbeda dengan Go Car dan Grab Car yang sudah eksis lebih dulu. Di negara lain In Driver mengambil keuntungan dari potongan, tapi untuk Indonesia mereka masih belum menentukan sistemnya saat ini. Jadi kita lihat saja beberapa waktu ke depan. Apakah Anda mau mencoba aplikasinya? Itu sudah bisa di unduh di Google Play.

Sumber :